Sulbar Express

Lebih Cerdar Lebih Bijak

Kementan Lepas Ekspor Minyak Sawit Sulbar

8 Maret 2019 22:34 WITA.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Minyak sawit Sulbar kembali di ekspor keluar negeri yakni ke Cina melalui Pelabuhan Tanjung Bakau, kabupaten Pasangkayu, Jumat 8 Maret.

Minyak sawit merupakan hasil olahan kelapa sawit yang dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk. Minyak nabati ini sangat diminati pasar dunia sebagai komoditas bahan baku industri.

Adapun, minyak sawit yang telah diproses kemudian diolah lebih lanjut menjadi berbagai turunan olahan minyak sawit seperti RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin, PKO dan lain sebagainya. Turunan olahan minyak sawit ini dimanfaatkan dalam berbagai produk seperti mie instan, keripik kentang, donat, bahan baku sabun, lilin, margarine, mentega putih dan lain sebagainya.

Sekretaris Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Arifin Tasrif mengatakan indonesia menjadi negara pengekspor minyak sawit terbesar di dunia.

“Sulawesi Barat dengan potensi lahan sawit yang besar memiliki peluang untuk mengisi kebutuhan industri ini,” kata Arifin.

Ia menambahkan jumlah volume Palm Kernel Oil yang diekspor adalah 8.000 MT dengan total nilai setara dengan 90 milyar rupiah dengan tujuan 3 kota di negeri Cina masing-masing Zhapu, Ahitubiek dan Zhangjiagang.

“Pemilik komoditas ini PT Tanjung Sarana Lestari (TSL) menyebutkan selain Cina, negera seperti Filipina, India, Korea juga meminati produk ini,” tambahnya.

Arifin juga berpesan agar seluruh jajaran Karantina Pertanian di Mamuju untuk terus jaga integritas dan tingkatkan profesionalitas dalam melakukan tindakan karantina.

“Kita jaga betul jangan sampai ada komplain atau Notify of Non Compliance, NNC dari negara tujuan ekspor. Selain dapat merugikan para pelaku usaha karena komoditasnya ditolak hal ini juga dapat mengurangi trust dari negara tujuan ekspor. Ini akan selalu menjadi fokus layanan kami,” ungkap Arifin.

Sedangkan, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Mamuju drh. Akhmad Alfaraby menyampaikan data dari Sistem Layanan Perkarantinaan di Mamuju tercatat lalu lintas eksportasi produk minyak sawit ini untuk kurun waktu Januari 2019 sebanyak 8,4 MT setara dengan nilai 94,5 milyar rupiah ke Jepang, 20,3 MT setara dengan nilai 228,3 milyar rupiah ke Cina.

“Ini mengalami peningkatan sebanyak 13 persen di bulan Februari 2019 yakni 22,9 MT atau setara dengan nilai 257,6 milyar rupiah,” ucap drh. Akhmad.

drh. Akhmad juga mengungkapkan untuk kurun waktu satu minggu di bulan Maret 2019, kali ini merupakan pengiriman kedua setelah sebelumnya (Selasa 5 Maret, red) dilakukan pelepasan dengan jumlah yang sama, yakni 8.000 MT.

Selain itu, lanjut Akhmad guna meningkatkan layanan perkarantinaan kepada industri, pihaknya telah meningkatkan sarana dan prasarana di laboratorium Karantina Mamuju. Dengan telah mengantongi akreditasi ISO/EIC 17025:2017 akan menjamin keakurasian terhadap hasil uji sehingga komoditas ekspor dapat memiliki daya saing dan diterima oleh negara tujuan.

“Selain itu, penerapan layanan inline inspection dan layanan prioritas bagi pelaku usaha agribisnis yang patuh juga menjadi terobosan Karantina Pertanian Mamuju dalam turut mendongkrak volume ekspor produk pertanian asal Provinsi Sulawesi Barat,” terangnya.

Sementara, Bupati Pasangkayu H.Agus Ambo Djiwa menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap upaya pembangunan pertanian yang dilakukan oleh seluruh jajaran Kementerian Pertanian di daerahnya.

“Kami sangat berterimakasih dan mengapresiasi atas upaya yang dilakukan kementerian dan jajarannya di daerah dalam membantu pemda pada sektor pertanian,” tandasnya.(hab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *